Menginstal ulang hati nurani
MENGAPA NEGARA KITA TIDAK MAJU-MAJU
Indonesiaku tersayang, apabila kita cermati, setiap tahunnya terjadi peningkatan jumlah sarjana, sampai-sampai banyak sarjana yang tidak kebagian pekerjaan, namun demikian negara kita tidak maju-maju. Jumlah sarjana pertanian dan ekonomi makin membludak tetapi kemiskinan makin meluas. Banyak sarjana hukum tetapi aturan makin semrawut , banyak sarjana psikologi tetapi orang gila makin banyak. Makin banyak partai, justru makin pusing menelorkan komitmen nasional untuk membuat negara lebih maju. Banyak tokoh agama / ulama, banyak yang kotbah, tetapi moral bangsa semakin mengkhawatirkan, yang baik dikatakan buruk, yang buruk makin ditekuni dan menjadi filosofi hidup, dsb (dan saya bingung).
Ada apa sih sebenarnya kok seperti ini. Yo kita renungkan . . . . .
Barangkali tindakan kita (individu, kelompok, lembaga, negara) belum seluruhnya mendapatkan barokah dari Sang Pencipta. Pikiran dan tindakan kita barangkali masih kliru di depan Tuhan.
Mengapa kita sekarang makin banyak keliru .
Barangkali karena kita tidak dapat memaksimalkan hati nurani kita sebagai basis berolah rasa, berpikir dan bertindak.
Mengapa bisa terjadi demikian.
Dulu jaman Nabi Adam, jumlah penggoda manusia hanya satu yaitu Iblis, akhirnya Iblis kecapaian karena mondar mandir menggoda 4 manusia penghuni planet bumi ini, yaitu Nabi Adam, isterinya dan 2 anaknya. Iblis berpikir, bagaimana bisa melaksanakan profesinya di kemudian hari apabila manusia beranak pinak dan memenuhi permukaan bumi ini, tugas makin berat. Akhirnya Iblis minta Allah, untuk diijinkan membuat tim untuk mengembangkan profesinya. Allah pun menyetujui ide tersebut, tentunya dengan berbagai persyaratan. Akhirnya setelah jaman Nabi Muhammad (sekarang ) setan (tim penggoda ) jumlahnya luar biasa, karena setan ibarat tidak mati, berumur panjang, sedangkan manusia hanya berumur pendek, sehingga menghasilkan perbandingan jumlah yang tidak seimbang. Saat ini mungkin 1 manusia digoda oleh tim-setan yang berjumlah jutaan dan sudah berpengalaman, ibarat anaka Balita yang menggoda setan-setan yang lulusan S3, tidak kalah serunya, bahkan manusiapun tidak sedikit yang ikut jadi tim tersebut tanpa imbalan.
Nurani manusia sudah terbalut oleh setan, sehingga sebenarnya persentuhan orang per orang tidak lagi via hati nurani, tetapi via setan. Itulah yang menyebabkan setiap orang memandang orang lain isinya hanya permusuhan, mudah tersinggung, iri, ingin menang dsb. Berbeda kalau yang bersentuhan nurani dengan nurani, maka yang terjadi adalah kedamaian, kasih sayang dan saling membagi kebaikan . Pikiran atau ide manusia juga sudah tidak waras, akhirnya kebijakan selalu keliru dan mengakibatkan bencana.
DPR dan Pemerintah yang seharusnya sebagai mitra , justru saling bermusuhan, saling curiga mencurigai, hubungan tidak harmonis. Ayah dengan anak yang sekarusnya menebarkan kasih sayang dan hormat, tetapi sebaliknya justru ketidak harmonisan yang terjadi, bahakan tidak tidang sedikit anak membunuh ayahnya, ayah memperkosa anaknya. Ada kecenderungan hubungan antar golongan, antar agama, antar kelompok juga mengalami nasib serupa, dsb.
Setan pada dasarnya sulit dilawan secara fisik, bahkan kalau mental kita lemah setan akan leluasa memakan kita dengan mudah. Satu-satunya perlawanan yang efektif adalah kita adalah berlindung kepada Tuhan Yang Maha Esa; A'uuddzu billaahi minasy syaithaanirrajiem (Aku berlindung diri kepada Allah dari godaan syaitan terla'nat).
Agama merupakan perangkat lunak (software) untuk manusia yang dapat difungsikan antara lain untuk memperkuat mental dan keimanan kita, sehingga kita dapat melawan setan dan menyelesaikan semua urusan dunia yang menjadi beban manusia. Agama sebagai software bagi manusia perlu diinstalkan pada perangkat kerasnya manusia yaitu hati dan otak manusia, agar manusia dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Setiap manusia yang otak dan hatinya mulai error, maka perlu diinstal ulang dengan software agama. Setiap hari lima kali minimal melalui sholat (wajib dan sunah), setiap minggu sekali melalui sholat Jumat dan setahun sekali melalui bulan puasa, manusia difasilitasi oleh Allah untuk membersihkan diri dari virus-virus yang membuat error. Selamat berpuasa, semoga kita menjadi umat yang bersih dan tidak error lagi.
From: Sidharto, Komplek STPDN/IPDN Jatinangor Sumedang Jabar, Indonesai.
